Advertisement

Seks Dengan Negro

“Hahhhhh….” Nia tiba-tiba terbangun, gadis itu merasakan sakit disekujur tubuhnya, pegal, dan rasa pedih di selangkangan dan juga di lubang anusnya, seorang pria negro membelai rambutnya kemudian mengecup keningnya. Di pagi hari itu si negro kembali melahap gadis itu kembali sampai Nia terengah-engah kehabisan nafas, Ben mengecupi bibir Nia, tubuh keduanya sudah basah kuyup bercucuran keringat. Sinar matahari bersinar dengan terik. Seorang pria negro menuntun seorang gadis berkulit putih, mulus, berwajah cantik, Nia tertunduk lesu, tubuh gadis itu kadang-kadang tertarik oleh tubuh besar yang menuntunnya entah kemana. Si negro berhenti di depan sebuah rumah besar yang tidak terawatt penuh dengan coretan-coretan disana sini.
“klikk…” Ben membuka pintu rumah itu dan menarik Nia masuk kedalam
“Blammmm..!!” Pintu rumah itu terbanting dengan kasar.
Beberapa orang pria negro segera menghampiri Ben dan Nia
“I love you baby…”Seorang diantara mereka meremas buah pantat Nia, gadis itu menepiskan tangan si negro yang kurang ajar, Nia membalikkan tubuh hendak mendamprat orang itu namun dirinya tertarik dengan keras oleh Ben.
Ben hanya tersenyum kemudian kembali menarik Nia kelantai atas, sayup-sayup terdengar suara teriakan memaki.
” Klikkkk….” Ben membuka pintu kamar itu, suara makian terdengar semakin keras.
“ahhhh…” Nia terkejut setengah mati, melihat didalam kamar itu ada beberapa orang Pria Negro dengan kemaluannya yang mengacung keras, bahkan beberapa kemaluan yang hitam legam itu jauh lebih besar dari milik Ben.

****************************

Sementara di atas ranjang, Ivan Gunawan tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak………!!!!
Sementara di atas ranjang seorang gadis tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak Julie Estelle dan Marshanda tengah asik mengelus-ngelus buah dada Nikita Willy.
“Keparat… Lepaskan…!!! Julie…!! ChaCha !! brengsek kalian…” Nikita Willy berteriak-teriak, memaki dan mendamprat Chacha dan Julie Estelle.
“Ehhh… Julie…, susunya loe nggak apa- apa kan?” tanya Chacha Pada Julie sambil mencubiti putting susu Nikita, sampai Nikita Willy meringis kesakitan.
“Maksud loe, nggak apa – apa gimana ?” Julie Estelle balik bertanya sambil membelai rambut Chacha.
“Yaaaaa, waktu dicomot orang itu dijalan,… ha ha ha… Cuphh”
Marshanda tertawa lepas sambil mencium bibir Julie Estelle.
“Sialan Loe Cha…, Gue jadi inget lagi kejadian itu… sebel banget deh sama orang negro kemaren itu …., yang rada-rada sangar itu loh.” Julie Estelle mengumpat kemudian ikut tertawa cekikikan.
“Ya…, maksud gua sihhh , kalo mau pegang jangan cuma sebelah dongg !! Kan Jadi berat sebelah, gimana gitu rasanya…..,sekalian dua-duanya, coba kalo susu gue dua-duanya yang dipegang pasti deh gue nggak akan marah! Paling cuma gua gampar!!!! ” Kata Julie kemudian ia mengulum bibir Chacha tanpa mempedulikan Nikita Willy yang masih berteriak-teriak sambil meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.
“Udah.., lagian salah loe juga kan pake kaos bertulisan U Can’T Touch “
“Yeee, Salah dimananya, jelas-jelas nggak boleh dipegang…”
“Yaa, tapikan hurup T nya ketutupan lelehan ice cream… Ha Ha HA HA” Marshanda tertawa nggakak, Julie Estelle cuma tersenyum pahit…..


“Ehhhhhhmm…. Julieee Hemmmmh Cupphhh” Marshanda mengigit kecil bibir Julie kemudian bibirnya menciumi lembut bahunya.
“Chacha…. Shhhhh Arrhhhhhhhhhh” Julie semakin liar menjerit-jerit ketika Marshanda menciumi lehernya.
“Plakkkkk..!! ” tiba – tiba Julie Estelle menampar mulut Nikita.
“Berisik amat sih loee, ngeganggu gua ama Chacha tau !!” Julie Estelle tampak berang.
“Sabar Julieiiii…, Nikita belon tau enaknya bercinta, ketimbang dihajar, lebih baik dia diajarin He he he….” Chacha membelai-belai pinggul Julie Estelle.
Kini Julie menggeser tubuhnya menindih tubuh Nikita, kemudian Julie menggesek-gesekkan buah dadanya pada buah dada Nikita, sesekali Julie menekan-nekan dadanya yang membuntal padat menekan buah dada Nikita Willy.
“Brengsekkk…, dasarrrr binal..!! Keparammmmmhhh Emmmmmhh…”Umpatan Nikita terputus ketika Marshanda menjambak rambut gadis itu sambil mengulum bibirnya.
“Heemmmm, Hemmm, Emmmm” Suara mulut Nikita yang sedang dilumat – lumat oleh Marshanda.
Sementara Julie semakin bernafsu menggesek-gesekan buah dadanya pada buah dada Nikita. Julie menciumi bulatan dada Nikita, ciumannya semakin turun kebawah dan…..
“Emmmmmhhhhh” Nikita mengejang ketika merasakan lidah Julie menjilati permukaan vaginanya, lidah Julie tampak begitu professional menyentil-nyentil klitoris Nikita Willy, sesekali lidahnya bergerak dalam gerakan memutar mengitari klitoris Nikita yang semakin mengkilap dengan indah, satu gigitan lembut kadang-kadang mampir di klitoris Nikita sampai gadis itu tersentak keenakan.

Sementara Chacha melepaskan kulumannya pada bibir Nikita, dengan lembut Chacha membelai rambut Nikita, sesekali dikecupnya kening gadis itu, suara makian tidak terdengar lagi dari bibir Nikita, mata Nikita tampak sayu menatap Chacha yang tersenyum memandanginya sambil mempermainkan dan meremasi buah dada gadis itu, tangan Marshanda mengelusi buah dada Nikita dengan lembut, kemudian ditarik-tariknya putting Susu Nikita dengan agak kuat sampai Nikita willy meringis – ringis.
“Ahhhhhhh…..,” mulut Nikita terbuka lebar, tubuhnya tampak bergetar dengan hebat “Crrrtttttttttt… Crrrtttttttttttttt” kemudian gadis itu terhempas tanpa daya, jempol Julie Estelle mengurut-ngurut klitoris Nikita dengan lembut, kadang-kadang dengan gerakan mengucek-ngucek kasar, sampai tubuh Nikita menggeliat-geliat sambil menjepitkan kedua pahanya rapat-rapat.
Julie Estelle tidak kehilangan akal ia menggigit paha Nikita sampai ia menjerit kesakitan sambil mengangkangkan kedua pahanya berusaha menghindari gigitan Julie Estelle, Nikita mencoba menahan kedua pahanya dalam posisi mengangkang ketika jari tengah Julie Estelle bergerak teratur dalam gerakan mengesek-gesek belahan di selangkangan gadis itu, Nikita mengigit bibirnya agar dapat menahan rintihan yang hampir keluar dari bibirnya.
“Hemmmm…, he he he…, enakkkk ?” Chacha terkekeh ia bertanya sambil mengecup bibir Nikita, Nikita mengangguk perlahan, tubuhnya tampak pasrah seolah-olah sedang menanti permainan selanjutnya.
“Ha Ha Ha.. Ayolah Nikita…, nggak usah tegang gito koq, rileks ajaa..”Marshanda membelai-belai sambil menyibakkan rambut Nikita yang acak-acakan menutupi wajah gadis itu, kemudian ia merundukkan kepalanya menciumi ketiak Nikita dengan lembut, sesekali lidahnya bergerak seperti sedang mengulas-ngulas sambil dilanjutkan dengan mengigit ketiak gadis itu.

Jari tangan Marshanda menjepit putting Susu Nikita Willy kemudian memilin-milin puting Susu gadis itu.
“Ohhhhhh… Chachaaaaaa…., Julie….. Ennnnnhhhhh” Nikita Willy memejamkan matanya rapat-rapat, jantung Nikita Willy berdetak dengan irama yang tidak beraturan air keringat sudah sedari tadi mengucur membasahi tubuhnya yang mulus..
Julie Estelle menjentikkan jarinya kearah tiga orang pria negro yang sudah sedari tadi menunggu untuk segera memulai aksi mereka. Tiga pria negro naik ke atas ranjang, yang dua menarik pinggul Chacha dan Julie Estelle agar sedikit menungging sedangkan yang satu menggesek-gesekkan kepala penisnya pada bibir vagina Nikita.
“Nggakkk… Nggakkkk mauuuu!! Ahhhhh…. Jangannnn Julie!!!!… Chacha !!! Gue nggak mauuu !!!” Nikita tampak panik ketika tangan Chacha dan Julie menarik dan merentangkan kedua kaki Nikita keatas, keduanya hanya saling berpandangan dan tersenyum kecil.
Tubuh Nikita tampak kejang menahan tekanan kepala kemaluan si negro yang terus menekan berusaha memasuki lubang vaginanya, si negro terus berkutat untuk melakukan penetrasi pada belahan vagina Nikita Willy.
“Ennnnnhhhhh………!! Jangan, aaaahhh !!” Nikita mengerang keras ketika penis si negro yang hitam dan besar menekan semakin dalam, kepala penis yang besar itu tampak kesulitan ketika ingin memasuki sela-sela vagina diselangkangan Nikita yang bentuknya seperti sebuah cincin yang elastis. Tubuh Nikita kejang – kejang ketika merasakan vaginanya seperti melar dan sesak, disumpal oleh kepala penis si negro yang besar.
“Awwwww…….!! ” Nikita menjerit keras ketika satu sodokan yang kuat merojok lubang vaginanya, ada sesuatu yang terobek-robek ketika kepala penis si negro menusuk semakin dalam.

Bersamaan dengan itu terdengar rintihan keras dari mulut Marshanda dan Julie ketika lubang vagina mereka juga disodok oleh dua orang pria negro, selanjutnya mereka tersentak-sentak oleh penis hitam yang besar dan panjang yang terbenam dalam kemaluan mereka yang sempit dan peret. Tubuh Nikita Willy terguncang-guncang dengan hebat di atas ranjang, berkali-kali mulutnya mengerang kesakitan ketika si negro memompai lubang vaginanya. Nikita mengerang-ngerang ketika si negro melakukan penetrasi yang dalam dan kuat, batang penis itu bergerak keluar masuk. Penis yang panjang dan hitam itu menekan dan terbenam dalam-dalam. Nikita mendesah-desah setiap kali batang penis itu merojoki lubang vaginanya dengan kuat dan kasar.
”Deep and Hard Baby.., he he he” mulut si negro menceracau
Ia tidak mempedulikan Nikita yang kewalahan menerima genjotan penis besar itu di lubang vaginanya, nafas nikita tersendat-sendat setiap kali penis besar itu menekan kasar.
“Ahhhhhhhhhh….! ” Nikita menjerit keras-keras ketika batang penis si negro mengaduki lubang vaginanya, ia ingin mencabut penis si negro yang tertancap di lubang vaginanya kemudian melarikan diri dari atas ranjang itu namun tenaganya hilang entah kemana, jangankan untuk berlari untuk menggerakkan tangan saja rasanya berat sekali. Marshanda dan Julie Estelle saling berpandangan sebelum sama-sama memperhatikan buah dada Nikita Willy yang terguncang-gucang. Buah dada yang ranum itu menjadi mainan bagi Marshanda dan Julie, sesekali Chacha dan Julie bergantian menggigit-gigit kecil puting susu Nikita Willy sampai pemiliknya menjerit antara sakit dan nikmat, mulut Marshanda dan Julie agak meruncing ketika menghisap kuat-kuat puncak payudara Nikita.
“Ahhhhhhhhhhh…. Crrrrrrrrtttt…. Crut” Nikita menahan nafas, tubuhnya mengejang merasakan nikmatnya rasa klimaks, Marshanda dan Julie mengelus-ngelus rambut Nikita, Chacha melepaskan ikatan di tangan Nikita, Julie tersenyum sambil terus disetubuhi oleh tiga orang negro bertubuh besar, ketiga artis muda itu berciuman satu sama lain

“Aduh, Chaaa…, memek gue…. ” Julie meringis ketika merasakan sodokan kasar dilubang vaginanya, isi vaginanya terasa terbetot ketika penis itu ditarik dan dijejalkan kembali kedepan ketika si negro membetot dan menghujamkan penisnya kuat-kuat.
“Aduh.., Aduhhhh, Julieee, mampus gue dahhhhh…., AWWWWWWW!!” Marshanda mengerang kuat ketika si negro menggerakan penisnya semakin cepat.
Mata Marshanda medelik-delik, mulutnya ternganga-nganga tanpa dapat berkata-kata, hanya erangan dan ringisan yang dapat keluar dari mulutnya.
“Arhhhh…, Jangan, Tolonggggg,,,!! Owwwwwwwww……!!!” Jeritan Nikita terdengar keras, lubang vaginanya terasa dirobek-robek dan ditumbuk hingga hancur oleh batang penis yang hitam, besar dan panjang, yang semakin keras menghantam lubang vaginanya.
“They’re good ehhhh?”
“Yeahhhh…, I like Asian girl”
“Smooth skin, cute face, hot &sexy, “
“and don’t you dare to forget their tight little vagina He he he”
Ketiga pria negro itu berbincang-bincang sambil terus mengayunkan kemaluan mereka tanpa mempedulikan Nikita , Marshanda dan Julie Estelle yang kewalahan menghadapi penis mereka yang besar, hitam dan panjang.
“Chacha…, My Girl !! Come here….!!” Ben berteriak memanggil Marshanda yang masih sibuk melayani nafsu seorang pria negro berambut poni, Marshanda menggeliat tubuhnya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan tangan si negro kemudian menghampiri Ben.
“Do You Know Her ? ” Ben bertanya pada Marshanda
Marshanda tersenyum nakal dan mengangguk
“Ok, teach her how to play….”

“Sini Nia, gue ajarin…., loe pasti ketagihan” Marshanda menelanjangi Nia Ramadhani dengan dibantu oleh Ben.
“Nggak mau Cha…! gue wanita normal…!!” Nia membentak sambil memalingkan wajahnya ketika Marshanda hendak mengulum bibirnya.
“Gue tau loe normal Nia, tapi gue juga normal koq…” Marshanda tersenyum nakal sambil memeluk pinggang Nia, Nia Ramadhani meronta-ronta, tanpa disengaja buah dada Nia Ramadhani yang terus bergesekan dengan buah dada Marshanda membuat percikan-percikan api birahi yang semakin lama semakin berkobar-kobar dengan dahsyat.
“Ohhhhhhhhhhhhh…….” Nia Ramadhani hanya dapat mendesah panjang ketika tangan Marshanda meremas buah pantatnya dengan lembut, Chacha terenyum ia tahu kalau Nia sudah mulai terrangsang..
“Julurin lidah loe Nia….” Marshanda mendesah sambil mengecup bibir Nia Ramadhani, Nia menelan ludahnya berkali-kali sebelum mulutnya terbuka dan menjulurkan lidahnya keluar.
Lidah Marshanda mengait lidah Nia kemudian menghisapi lidah Nia yang terjulur keluar. Si negro berambut poni menghampiri tempat pertarungan, ia mengambil posisi dibelakang tubuh Nia Ramadhani, sementara Ben mengambil posisi dibelakang tubuh Marshanda, tanpa disuruh Marshanda agak menunggingkan bokongnya kebelakang sambil merentangkan kedua kakinya melebar, Marshanda agak meringis ketika Ben menyodok lubang anusnya dengan kasar.
“Uchhh…, Bennnnn, It’s hurt,…., Please, Ben Pleaseeee” tubuh Marshanda menggigil menahan rasa sakit dilubang Anusnya yang sedang dirojoki dengan kasar.
”Slowly Ben Slowlyyy, Pleaseee, Oahhh!! ” Marshanda memohon agar Ben menyodominya dengan perlahan-lahan. Marshanda melolong keras karena Ben malah semakin kasar dan kuat menyodomi lubang anus artis muda yang cantik itu. Ben memacu seluruh tenaganya dan dilampiaskannya nafsu bejatnya pada tubuh Marshanda yang terguncang dengan hebat, butir keringat bercucuran membasahi tubuh Marshanda.

“Esshhhhh, ” Marshanda mendesah kecil ketika irama penis Ben bergerak melambat dan bertambah lambat, penis yang hitam dan panjang itu tampak begitu mesra merojoki lubang anusnya.
Si negro berambut poni menepuk-nepuk pinggul Nia, Nia Hanya menoleh kebelakang, ia tidak mengerti apa maksud si negro berambut poni.
“Nungging dikit Nia…, terus buka kaki loe lebar-lebar…” Marshanda mendesah sambil berbisik ditelinga Nia Ramadhani, Nia mengikuti bisikan marshanda ditelinganya.
“Ahhhhh……!! ” Nia menjerit keras ketika si negro berambut poni dengan kasar menjebloskan penisnya dengan kasar memasuki vaginanya yang seret dan peret, Marshanda dengan sigap memeluk erat-erat tubuh Nia Ramadhani ketika gadis itu hendak berontak
Bibir Marshanda berkali-kali mengecupi bibir Nia Ramadhani, lidah Marshanda terjulur keluar menjilati dagu dan bibir Nia. Selanjutnya terdengar suara desahan dan pekikan kenikmatan dari bibir Nia Ramadhani dan Marshanda, tubuh mereka terdorong saling tekan dan saling himpit akibat tusukan-tusukan yang kuat di lubang vagina Nia Ramadhani dan Marshanda, dua buah gundukan payudara di dada mereka saling bergesekan dan saling menekan, sehingga membuahkan rasa nikmat tersendiri. Chacha dan Nia memekik bersamaan ketika sebuah gelombang kenikmatan menderu-deru menghantam tubuh mereka yang mulus
“Cruuutttt… Cruuuttttt…. Ahhhh !! Chachaaaa….”
“Ehhhsssshhhhh Niaaaaaa”
“Hmmmm Hmmmmmm” Marshanda melumat bibir Nia Ramadhani, sementara tusukan-tusukan kasar masih menghantam lubang vagina mereka dari belakang.

“You’re so cute…, ” bisik si negro berambut poni sambil menjilati belakang telinga Nia Ramadhani, ciumannya semakin liar, lidahnya menjilati tengkuk Nia Ramadhani, kemudian turun menciumi bahu Nia, sesekali ia mengigit leher Nia sampai membekas kemerahan.
“C’mon Baby , It’s okay to scream….” si negro menekankan batang penisnya semakin dalam ke lubang vaginanya.
“Arrhhhhhhhhhhhh….., Oooooohhhhh, Yeahhhhhhhhh…” Nia tidak mampu lagi untuk menjerit merasakan rasa nikmat akibat pompaan si negro di lubang vaginanya. Si negro semakin kuat menghentak-hentakkan batang penisnya sampai tubuh Nia tersungkur-sungkur dengan keras kedepan..
“Plokkk,, Plokkk.. Plokkkk.. Plokkkk.. Plokkk” suara itu terdengar semakin keras dan gencar, Nia pun semakin keras menjerit – jerit dengan liar.
Penis Ben kini tertancap di lubang vagina Marshanda, sambil tersenyum Marshanda mengalungkan kedua tangannya keleher Ben, beberapa kali bibir Mereka berkecupan, dan saling mengulum dan melumat-lumat. Marshanda melompat dan Ben segera mendekap buah pantat Marshanda, kedua kaki Marshanda menjepit pinggang ben kuat-kuat ketika tangan Ben yang kekar mencengkram dan mengangkat pinggul Marshanda.
“Plepp.. Pleppp… Clepppp.. Klepppphhhh” Suara Batang Penis Ben yang terayun-ayun memacu lubang Vagina Marshanda.
“yeshhh, That’s it, Fuck me Bennnn, fuck meeeeeee!!!” Marshanda mendesah-desah dengan liar.

“Ahhhhhh….!! ” terdengar Jeritan Nikita yang sedang menungging, gadis itu menjerit keras ketika merasakan sebuah benda mengebor lubang anusnya, sementara itu seorang pria negro menekan punggung Nikita sehingga gadis itu tidak dapat berbuat banyak. Tangisan Nikita berbaur dengan rintihan dan erangannya, dan akhirnya berhenti ketika rasa nikmat mulai menjalari tubuhnya. Si negro tidur terlentang sambil membetot pinggul Nikita, gadis itu duduk mengangkang dengan posisi membelakangi si negro yang terlentang dibawahnya. Penis si negro menancap dengan kokoh di lubang anusnya, tangannya mengusap – ngusap punggung Nikita yang sudah basah oleh keringat yang mengucur dengan deras. Sesekali tubuh Nikita tersentak kuat keatas ketika si negro dengan kasar menyentakkan penisnya semakin dalam merojok lubang anus Nikita.
“Ahhhhh… Ahhhhhhh….” Nikita merintih dan mendesah-desah dengan keras, keringat bercucuran membasahi tubuhnya, payudara Nikita tampak basah oleh keringat yang terus meleleh mambasuh tubuhnya yang mulus.
“Hahhhhh….!? Nikita terkejut ketika kedua kakinya diangkat keatas dan tubuhnya ambruk kebelakang jatuh dalam pelukan si negro yang sedang tidur terlentang, tangan negro itu meremas dan mengelusi buah dada Nikita, sesekali tangannya mencubiti puting Nikita sambil berbisik di telinga gadis itu
”Nice.. Boob…, Hemmm Cute little Tit’s”Tangan Sinegro menggerayangi buah dada Nikita dan mulai memilin-milin puttingnya
“Awwww…….! Jangannnnnn!” Nikita memekik ketika lubang vaginanya ditancap dengan kasar oleh sebatang penis, kemudian dua batang penis yang besar dan hitam itu menyerang lubang vagina dan lubang anusnya dengan bertubi-tubi, liar dan kasar.

“Arrrhhhhhhh… Crrrrr Crrrrrrrrrrrrr” Nikita mengerang panjang ketika hantaman demi hantaman kasar akhirnya menjebol pertahanannya, tubuhnya mengejang dan merinding dengan hebat, Nikita mengerang dengan keras ketika tubuhnya terus terguncang-guncang semakin hebat, ada rasa ngilu yang menyelingi rasa nikmat
“I got you, little bitchhh….”
“Yeahhhh… Yeahhhhhh…., Do you like it bitch?”
Dua orang pria negro yang sedang memompai lubang anus dan vagina Nikita berteriak-teriak dengan liar.
“Ohhhhh, Ahhhhhh, Jangannnn, Pleaseeee, Stopppp… Awwww” Nikita menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya acak-acakan, gadis itu benar-benar tidak kuat menahan kompaan-kompaan kasar dua batang penis yang hitam dan besar di lubang vagina dan lubang kemaluannya, tubuh gadis itu terguncang-guncang diantara rasa nikmat dan rasa sakit.
“Aaaaaa… Uwwwww….. Crrrrrttt Crrrrrrtttt” Nikita mengepalkan kedua tangannya didada ketika dinding vaginanya berdenyut-denyut dengan nikmat.
“Bluk… Blukkkkkkkk” kedua kaki Nikita terhempas dengan lemas keatas ranjang, sesekali wajah Nikita mengernyit menahan sodokan-sodokan kedua orang negro yang masih betah menyodokkan batang penis mereka menghujami lubang anus dan lubang vaginanya.
Mata Nikita terbuka sedikit untuk melihat pria negro yang begitu kuat sedang memompa lubang vaginanya kemudian Nikita menolehkan kepalanya kekiri belakang berusaha menatap yang seorang lagi yang tengah ditindih oleh punggung gadis itu, terasa sekali sodokan-sodokan kuat yang menghantam lubang duburnya dari bawah.

“Crrrrtttt….., Crrrrrrr…., “Nikita hanya sanggup memejamkan mata rapat-rapat sambil membuka mulutnya lebar-lebar tanpa ada suara sedikitpun yang keluar ketika kenikmatan itu kembali berdenyut-denyut diselangkangannya.
Nikita menahan nafasnya merasakan semburan-semburan hangat dari penis kedua pria negro itu menyiram lubang anus dan lubang duburnya.
“Sudahhhh…, jangannn…, No, Please…” Nikita berusaha menolak ketika seorang negro berambut tipis menarik tubuhnya, negro itu meletakkan tubuh Nikita dalam posisi menyamping diatas lantai beralaskan permadani, kemudian kaki kiri gadis itu diangkatnya keatas. Tampaknya tubuh Nikita yang sudah basah kuyup oleh keringat malah membuat si negro semakin bernafsu.
“Crebbbbb Ahhhhhhh…., Aaaaaa….” Nikita mendelikkan matanya ketika merasakan Batang penis Sinegro menusuk lubang anusnya kuat-kuat. Nikita Willy kembali mengerang sekuat tenaga merasakan Batang penis yang Panjang itu merojok-rojok lubang anusnya, Nikita Merasakan lubang anusnya semakin Panas, ada sedikit rasa perih dan gatal yang menyelingi.
“Ohhhhh….” Nikita hanya dapat mendesah sambil membuka mulutnya ketika sebatang penis yang panjang memaksa masuk kedalam mulutnya.
“He…ommhhhhh… Emmmm” mulut Nikita tampak sedikit menggembung, penuh sesak oleh penis si negro.
Tubuh Nikita tersentak-sentak dengan kuat, sementara buah dadanya menjadi mainan bagi tangan-tangan hitam yang nakal, mengelus, merayap, terkadang meremas sambil sesekali mencubit dan menarik putingnya.
“Hhhhhhh………Crrrrrr… Crrrrrrr…..” hanya satu helaan nafas panjang yang tertahan saja yang dapat keluar dari mulut Nikita ketika merasakan denyutan-denyutan nikmat itu kembali menghempaskan tubuhnya yang sudah berpeluh.

Terdengar jeritan liar Julie, gerakan tubuhnya terlihat binal dan liar. Julie menaik turunkan pinggulnya di atas kemaluan si negro sambil menunggangi seorang negro yang terlentang dibawahnya, Julie berteriak “Youuuu…! Come Here……”
Tiga orang negro terkekeh-kekeh , melangkah mendekati Julie
“C’mon fuck me, fuck me deep and hard” Julie tersenyum nakal sambil meleletkan lidahnya, menatapi tiga batang kemaluan yang tampak kokoh dan kuat diselangkangan ketiga orang negro itu, jauh lebih kokoh daripada milik pacarnya, si pembalap karbitan, Moreno, yang cuma lima centi itu.
Batang kemaluan si negro menghujam keatas menyodok-nyodok lubang vagina Julie sehingga ia semakin liar menjerit-jerit.dan kembali bergoyang dengan liar. Julie menghentikan gerakan liarnya, ketika merasakan sebatang penis menggeliat, berusaha menyelinap di sela-sela pantatnya. Ia mengerang keras ketika penis si negro mulai berusaha menyodomi lubang anusnya,
“Arrrrrrhhhhhhhhhh…” tubuh Julie tersentak keras ketika lubang anusnya dijebol oleh si negro.
“Uaaahhhhhh….!! Yeahhhhh!! Fuck me !!Arrrrrhhhhhhh” tubuh Julie terguncang-gucang ketika lubang anus dan vaginanya dihantam berkali-kali oleh kemaluan negro yang besar dan panjang.
“Hmmmm, Hssshhhh Yeahhh!! EMmmmmhhhh…Ckkk” mulut Julie sibuk mengenyot – ngenyot sedotan hitam yang besar dan panjang, sesekali lidahnya menjilati lendir-lendir yang keluar dari “kepala sedotan” itu.
“You naughty little bitch !! ” seorang pria negro meremas-remas buah dada Julie dari samping, sambil mengecup dan menjilati bahu dan lehernya sehingga tubuh wanita cantik itu semakin liar menggeliat-geliat dengan indah.

“Arhhhhhhh…. Crrrrrr…. Crrrrrrrrrrr” Julie terengah-engah, tubuhnya melenting dengan indah sebelum ambruk tanpa daya kedada pria negro yang sedang ditunggangi olehnya yang semakin binal.
“Uhhhhhhhhhh…..” Julie mengeluh merasakan rambutnya dijambak ke belakang, Kemudian ia mengerang ketika merasakan kembali sodokan keras di lubang anus dan lubang vaginanya.
“Crooottttt….” ” Kecrotttttttt” sperma si negro menyemprot di dalam lubang anus dan lubang vagina Julie.
Marshanda terlentang di atas ranjang, sementara Nia dan Nikita Willy berbaring disampingnya, tampaknya Marshanda sedang mengajari mereka.
“Nahhhh, gue udah ajarin semua yang gue tau, sekarang coba kalian praktekkan…” Marshanda mengangkangkan kedua kakinya melebar.
Nikita dan Nia yang masih merasa canggung hanya saling berpandangan, Marshanda tertawa kecil kemudian menekan kepala Nia kearah payudaranya. Perlahan-lahan Nia Ramadhani membuka mulutnya kemudian mengecup puncak payudara Marshanda. Mulut Nia berusaha mengecupi bulatan payudara Marshanda. Semakin lama Nia semakin rakus mengecupi dan mengenyoti puting susu Marshanda yang tertawa kecil keenakan sambil membelai lembut rambut Nia.
“Nikitaaaa….” Marshanda mendesah manja sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah payudaranya sendiri.
“C’mon, try to Suck it,!!” seorang negro menekan kepala Nikita dengan paksa ke arah payudara Marshanda. Hidung Nikita kembang kempis, mengendusi harumnya payudara Marshanda, lidah Nikita perlahan-lahan keluar memolesi bulatan payudara Marshanda sesekali ia menggigit kecil putting susu Marshanda.
Marshanda memejamkan kedua matanya, sesekali merintih kecil. Ada sinar kepuasan di ekspresi wajahnya.

“Ahhhhhhhh, Ahhhhh….” Marshanda menggeliatkan tubuhnya dengan erotis.
Setelah menekuk lututnya Marshanda semakin mengangkangkan kedua pahanya melebar. Marshanda mendesah panjang merasakan sebatang lidah menjilat lembut belahan vaginanya yang disusul dengan kecupan-kecupan lembut yang menjelajari permukaan vaginanya. Ia membuka matanya sedikit ketika merasakan kecupan lembut di bibirnya, Marshanda tersenyum memandangi wajah Nia. Bibirnya pun menyongsong datangnya bibir Nia.
“Cuppp…, cuppphhhhh….”Bibir kedua gadis itu melekat erat dan saling mengulum, daerah bibir Marshanda dan Nia Ramadhani tampak basah oleh ceceran air liur mereka yang sudah tercampur. (Air liur Mix he he he ^^)
“Niaaaa…..”
“Ohhhhh.. Chacha…….”
Kedua bintang muda itu saling memanggil, kemudian berpelukan erat dan melanjutkan dengan kuluman-kuluman dan belitan-belitan lidah mereka yang semakin lama semakin liar.
“Ooccchhhh…., Ahhhhhh Crrrrrr….” kaki Marshanda menjepit kuat-kuat kepala Nikita Willy, cairan kenikmatan Marshanda muncrat dalam denyuta-denyutan kenikmatan. Kedua kaki Marshanda kemudian terkulai dengan lemas di atas ranjang.
Marshanda menatap sayu wajah Nikita, disuruhnya Nikita agar menungging. Sementara kedua tangan Marshanda menekan kepala Nia agar menunduk mendekati lubang anus Nikita, namun Nia menolak ketika Marshanda memerintahkan Nia untuk menjilati lubang anus Nikita.
“Ayooo…..” Marshanda tersenyum sambil menekan kepala Nia
“Ayo sayang lakukan…Hssshhhhh…..” bisik Marshanda ditelinga Nia, ia kembali membujuk Nia agar menjulurkan lidahnya, Marshanda tersenyum ketika melihat mulut Nia mulai terbuka dan lidah gadis itu terjulur keluar.

“Emm, Cuppphhh, Cuppphhhh… Slssckkk Slllcccckk” Mata Nia mendadak berubah sayu, bibirnya mencumi bulatan pantat Nikita, lidah Nia sesekali menjilati belahan pantat Nikita. Lidah Marshanda perlahan-lahan ikut memolesi sela-sela pantat Nikita.
“Ahhhhhhh…., Niaaaaaaa….., Chaaaaaa…..” Nikita mendesah merasakan dua batang lidah yang terasa hangat dan basah itu seolah-olah seperti sedang bekerja sama mempermainkan sela-sela buah pantat dan lubang anusnya.
“Ehhhh….” Nikita Willy sedikit menarik pinggulnya ketika merasakan ada sesuatu yang menusuk belahan vaginanya, Nikita mengangkat pinggulnya sedikit keatas sambil menengokkan kepalanya ke belakang, tampaknya Nia mempunyai inisiatif untuk mencolok belahan vagina Nikita, bahkan kini perlahan-lahan Nia mulai memasukkan sebuah jari lagi dan lagi, jari tengah , jari telunjuk dan jari manis Nia kini terjepit dibelahan vagina Nikita. Marshanda menggeser posisi tubuhnya dan kemudian menindih punggung Nikita dengan buah dadanya, sementara kedua tangan Marshanda menggerayangi dan meremas-remas buah dada Nikita. Nikita menolehkan kepalanya kearah kepala Marshanda yang mendekat, “Ckkkk.. Cheeeccckkk…..”decak-decakan itu semakin keras terdengar, akibat semakin bernafsunya ciuman dan kuluman Nikita dan Marshanda, tubuh Nikita bergerak maju mundur dengan lembut ketika Nia menusuk-nusukkan ketiga jarinya dengan perlahan.
“Ennnhhh…, Ennhhhhhh…..” Entah kenapa Nikita merengek-rengek
“Ahhhhhh….! Crrrrrrrrrr Crrrrrrrrrrrrrrrr” mulut Nikita mirip huruf O, sedangkan kedua matanya semakin sayu dan nafasnya tersendat-sendat ketika mencapai puncak klimaks, beberapa saat lamanya Marshanda dan Nia Ramadhani menggeluti tubuh Nikita Willy sampai akhirnya Nikita kembali memekik kecil mencapai puncak kenikmatannya kembali.

Marshanda membalikkan tubuh Nikita Willy kemudian menyuruh Nia naik keatas tubuh Nikita dalam posisi 69. Kedua tangan Marshanda mendorong bahu Nia sambil mengambil posisi mengangkangi perut Nikita.
“Giliranmu Niaaaaa….” Marshanda mengalungkan kedua tangannya pada leher Nia Ramadhani semetara Nia membalas dengan mengalungkan kedua tangannya membelit pinggang Marshanda.
“Slllccc. Sclllkkkk.. Ckkk… Sllccck”Nikita menjilati dan mengemut Vagina nia Ramadhani, Nia tidak dapat menahan rintihannya, gadis itu semakin keras menjerit karena luapan nafsu birahi yang semakin hebat meledak-ledak didalam dirinya.
Mulut Nia dan Mulut Marshanda saling mengulum , lidah – lidah mereka terjulur saling membelit dan mengait.
“Ohhhhh…..,” Marshanda mendesah kemudian tersenyum sambil menekankan vaginanya ke depan, tangan Nia merayap dan meremasi selangkangan Marshanda sementara kepala Nia bersandar di bahu Marshanda, bibir gadis itu tidak pernah berhenti mengucapkan kata….
“Chaaa… enakkkk, Chachaaaa…., enakkkkkkk”
Marshanda hanya tersenyum nakal , kedua tangannya memeluk erat-erat tubuh Nia Ramadhani sambil menggesek-gesekkan payudaranya menggeseki payudara Nia Ramadhani.
“Heemmmm…, emmmmhhhhh…..” Bibir Nia dan Bibir Marshanda kembali saling mengulum dengan sangat bernafsu.
Tubuh Nia tiba-tiba bergetar Hebat…..
“Emmmmmm……… Hfffhhhhh Hfffffhhhhh…Crrrrrr Crrrrrr”suara nafas Nia semakin meburu kencang menerpa kulit pipi Marshanda, setelah melumat-lumat bibir Nia dengan mesra barulah Marshanda melepaskan kulumannya, dibelainya wajah Nia

“Yie, gimana sih koq gue nggak diajakin ? ” Julie berkacak pinggang di pinggiran ranjang, tubuhnya tampak basah berceceran keringat dan sperma.
“Ha Ha ha, Mau sama sapa ? Ama Nikita atau Ama Nia ?” Marshanda menawarkan dua pilihan kenikmatan diatas ranjang.
“Emmmmm, Gue ama Nia aja deh….”
Marshanda menarik tangan Nikita dan duduk dipinggiran ranjang. Sementara Julie langsung naik keatas ranjang dan menindih tubuh Nia. Dua tubuh mulus yang basah dan hangat itu saling serang, Nia dan Julie Estelle bergulingan, Jeritan-jeritan liar terdengar dari mulut kedua wanita itu yang tidak mau saling mengalah. Nia berusaha menaklukkan kebinalan Julie, demikian juga Julie berusaha menaklukkan Nia yang berubah nakal dan liar.
“Wawww…” “Ihhhhh” Hanya suara itu yang terdengar dari mulut Marshanda dan Nikita Willy ketika menyaksikan pergumulan yang sangat liar.
“Ennggghhhh….”sekuat tenaga Nia membalikkan tubuhnya yang ada di bawah, Nia mengangkang menduduki perut Julie, kedua tangan Nia mencekal pergelangan tangan tangan Julie yang terus berontak dan melawan, perlawanan Julie Estelle semakin lemah dan akhirnya pasrah, pasrah pada kebuasan Nia yang tidak terduga.
Nia menatap tajam wajah Julie Estelle sebelum menundukkan wajahnya semakin dekat kewajah gadis itu. Nia melekatkan bibirnya ke bibir Julie Estelle, kemudian dengan lembut bibir Nia dan Julie Estelle saling memangut dengan mesra, saling mengulum dan saling melumat dengan lembut. Tangan Nia membelit punggung dan pinggang Julie kemudian dengan liar Nia melumati bibir Julie. Tubuh Julie merinding, nafasnya terasa sesak, ketika Nia memangut-mangut , begitu liar dan nakal.
“Ehhhhh, Essshhhh, Ahhhhhhhhh!!” Julie Estelle tidak sanggup lagi menahan jeritannya ketika Nia mengenyot-ngenyot kuat puncak payudaranya dan menggigit kuat-kuat puttingnya.

“, aduhhhh.. !! Nia, jangan digigit gitu dong.. ” Julie protes karena Nia kembali menggigit putting susunya”HA Ha Ha… Sorry, Sorry, Gua gemes…” kemudian Nia menundukkan kepalanya , lidah Nia terjulur keluar, mengulasi buntalan payudara Julie yang terlihat membengkak mengeras kenyal. Mulut nia semakin rakus menghisap, mengemut dan mengecupi buah dada Julie.
Ciuman-ciuman Nia yang kasar dan liar menjalar semakin lama semakin turun kebawah “Aaaaaaaaaaaaaaa……” kedua kaki Julie Estelle menjepit kepala Nia Ramadhani, semakin lama kaki Julie semakin mengangkang, berkali-kali Julie Estelle mengangkat-angkat pinggulnya, menyajikan vaginanya untuk Nia. Desahan-desahan keras terdengar dari mulut Julie “Ahhhhh…,, Ahhhhhhh,, Niaaaaaaa…, Ahhhhhhhhhh”
Punggung Julie Estelle sedikit terangkat dan Blukkkkk “Ennhhhhhhhhh…, Crrrrrrr…., Crrrrrrrrrr……”, Nia tersenyum puas dirinya sudah memenangkan pertarungan, ditepuk-tepuknya klitoris Julie kemudian diusapinya bibir vagina Julie yang merekah untuk membangkitkan kembali nafsunya. Nia menggeserkan tubuhnya keatas sambil menekankan payudaranya kuat-kuat, susu Nia yang lembut dan basah menggesek paha Julie terus naik bergesekan dengan permukaan vagina, perut dan akhirnya menekan kuat-kuat gundukan payudara Julie. Julie lalu membalikkan tubuhnya menindih tubuh Nia, kedua tangan Julie mencekal pergelangan tangan Nia dan meletakkan kedua tangan Nia terentang keatas. Marshanda berbisik di telinga Nikita Willy, mereka berdua naik keatas ranjang dan membantu Julie memegangi tangan Nia yang sedikit meronta sambil tersenyum nakal.

Julie menundukkan kepalanya menciumi telapak tangan Nia dan terus turun mengecupi lengan Nia. Nia mendesah ketika merasakan hembusan nafas Julie di permukaan payudaranya.
“Ahhhh…, Julieee….Shhhhhhhh ” Nia mendesis ketika jari Julie mempermainkan putting susunya, memilin-milin dan menarik-narik puttingnya, mulut Julie mengecupi puncak putingnya yang semakin keras.
Setelah puas memainkan buntalan susu Nia perlahan-lahan Julie terus menggeser posisi tubuhnya semakin turun kebawah, mulut dan lidah Julie terus mencumbu semakin turun. Nia mengangkangkan kedua kakinya melebar memberi jalan bagi kepala Julie.
“Ahhhhhhh…..!! ” Nia menjerit keras ketika jari tengah Julie menusuk lubang vaginanya dan melakukan gerakan-gerakan liar seperti sedang mengucek-ngucek lubang itu.
Julie menambah jarinya, kini jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya terbenam ke dalam belahan vagina Nia,
“Arrrrrhhhh…, Arhhhhhhh….!!” Nia Semakin keras menjerit ketika Julie menggerakkan ketiga jarinya dengan kasar, sambil terus menusuki belahan vagina Nia, lidah Julie mengait-ngait klitoris Nia yang semakin membengkak.
“Ahhhhh, Shhhh Shhhh, Akhhhh Crrr Crrrrrrrr” Nia Ramadhani terkulai, Julie Estelle menusuk-nusukkan ketiga jarinya dengan perlahan-lahan, kemudian mencabut ketiga jarinya dari belahan vagina Nia, ketiga jari Julie tampak basah oleh cairan kewanitaan Nia.
Marshanda menatap nakal pada Julie Estelle kemudian berbisik
“Sekarang waktunya kita dientot lagi “
Julie Estelle membaringkan tubuhnya disamping Nikita Willy. Ia saling berpandangan dengan Nikita, kedua artis cantik itu saling melemparkan senyuman nakal mereka, hampir bersamaan kedua kaki mereka merekah mengangkang.

“C’mon, fuck us, all night long, (Hmm, kaya judul lagu ^^)”, setelah berbaring di sisi Julie, Marshanda mengangkangkan kedua pahanya melebar, ketika seorang negro masing mulai menggesek-gesekkan kepala penisnya ke belahan vagina Marshanda dan Julie. Ben dan seorang negro lainnya menggesek-gesekkan penis mereka pada belahan vagina Nia Ramadhani dan Nikita Willy. Ketiga gadis itu berjajar di atas ranjang siap untuk menerima sodokan batang kemaluan tiga orang negro yang terkekeh-kekeh sambil mengambil ancang-ancang.
“Ahhhhhhhhhhh…..! ” Jeritan panjang yang pertama terdengar dari mulut Nia Ramadhani, tubuhnya tergucang-guncang ketika sebatang penis yang besar dan hitam itu kembali mengocok-ngocok lubang vaginanya.
“Pelannnnhhhhh, Arrrrhhhhhhh, jangannnnn, Nooooooo!! ” Nia memohon agar si pria negro memperlambat tempo sodokannya, namun sepertinya percuma saja memohon pada si hitam yang sedang keasikan memompakan penisnya pada belahan vagina Nia yang seret dan sempit.
“Heee heeee…, you’re on the top of the world, baby!” Sihitam mencengkram pinggul Nia Ramadhani kemudian merubah posisinya, kini si hitam duduk di atas ranjang sementara Nia menduduki batang penis si hitam yang menancap di selangkangannya.
“Please, Pleeeaaaseeee…, Arrrrhhhh Pleaseeeee…, ” Nia terus merintih minta dikasihani oleh si negro yang terus menghujam-hujamkan penisnya dengan kasar sampai tubuh Nia berkali-kali tersentak-sentak keatas diertai jeritan panjangnya yang melengking.
“Ohhhhh…, Nooooo, Pleaseeee…, Nooooooooo” Nia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika merasakan sebatang penis berusaha menjebol lubang anusnya.

“Arrrhhhhhh… Haaaaahhhh….” tubuh Nia tampak kejang menahan sesuatu yang besar itu menyeruak masuk dengan kasar menerobos lubang duburnya.
“Please, Arrrhhhh… Arhhhhhhhhhhh…” Nia mengerang ketika dua batang penis itu bergerak keluar-masuk dengan cepat dan kasar.
“Please no more…, no moreeeee. Enngggg” Nia kewalahan.
“Hahhhh…?? Want moreeeee…, Oke Baby, take thisssss….” Si negro menghantamkan batang penisnya kuat-kuat menyodok-nyodok lubang anus Nia sampai ia menjerit panjang. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
“No More !!!!, Budegggggg!!! ” Si negro yang tengah mengocok lubang vagina Nia berteriak keras dengan emosi. (Red : HAAAHHHHH ? LOHHHH ? ADA YANG DENGER NGGAK SI NEGRO BILANG APA TADI ? )
“Ennnnhhhh…. Ahhhhhhh” kepala Nia terangkat ke atas ketika tangan kanan si negro yang agak budek itu menarik rambutnya ke belakang sedangkan tangan kiri si negro merayap menggerayangi bulatan payudara gadis itu. “Plefffhhh… Ploooppp… Plakkkk… Clepppp… Cleppppphhhhh” suara lubang anus Nia dan lubang vaginanya semakin keras berdemo ketika batang-batang penis yang hitam dan panjang itu semakin kasar dan kuat merojoki lubang anus dan vaginanya.
Karya : Yohana
Nikita tampak cemas ketika Ben menarik tubuhnya turun dari atas ranjang,
“Ennnnhhhh…. Ahhhhhhhhhhhh” Nikita menjerit ketika lubang vaginanya menggigit batang kemaluan Ben yang besar dan panjang, kedua lututnya terasa goyah ketika kemaluan Ben semakin dalam tenggelam dengan perlahan memasuki lubang vaginanya.
Gadis itu menekuk wajahnya sambil memperhatikan kemaluan Ben, baru masuk sampai sebatas leher penis, namun Nikita sudah merasa kewalahan, perlahan-lahan batang penis itu terus menekan
“Ahhhhhhhhh…, Ahhhhh…..”Nikita merintih ketika penis Ben semakin tenggelam, kemudian mendesah-desah dalam siksaan yang sangat nikmat ketika penis Ben mulai bergerak memompa lubang vaginanya.
Tangan Ben bergerak mendekap pinggul Nikita dan mengangkat tubuh mungilnya, Nikita mengalungkan kedua tangannya berpegangan pada leher Ben. Untuk sesaat tubuh Nikita Willy terayun-ayun dengan bebas, terkadang ia meringis ketika merasakan ada rasa ngilu yang menyelingi rasa nikmat. Ben menghentikan gerakannya, Nikita mendesah panjang, lega karena serangan Ben terhenti.
“Ohhhh… !! ” Nikita menolehkan kepalanya kebelakang ketika merasakan benda besar dan hangat menggesek sela-sela pantatnya.
“Hegkkkk… Ahhhhhhhhhhhhhhhh….” Nikita melotot merasakan lubang anusnya kembali merekah dijebol dengan kasar olehl penis si negro yang berdiri di belakang tubuhnya.
“Awwwwww……!! Nggghh , Nghhhgg Aaaaaaaaaaaaaaaa !! ” Nikita menjerit keras kemudian merengek-rengek ketika merasakan dua batang penis itu mengocok-ngocok lubang vagina dan lubang anusnya dengan kasar dan brutal sampai-sampai Nikita melolong dalam kenikmatan api birahi yang membakar tubuhnya sampai kepanasan dan semakin bercucuran keringat.

“Ihhhhhh…..! Crrrrr… Crrrrrr….” Kenikmatan itu mengangkat dan menghempaskan Nikita kuat-kuat.
Tubuh Nikita pasrah dalam tusukan-tusukan penis si negro di lubang anus dan vaginanya, matanya terpejam-pejam, merasakan kenikmatan yang begitu hebat meluluh lantakkan tubuhnya yang berpeluh, halus dan mulus. “Kecrottttt….” “Crooooottttt”, dua batang penis itu menghentak sedalam mungkin, semburan-semburan sperma menyemprot kedua lubangnya. Seorang negro dengan hidung kelewat pesek merebut dan membopong tubuh Nikita yang sudah basah kuyup berceceran air keringat yang membanjir. Ia duduk di atas kursi kemudian menarik pinggul Nikita turun.
“Hssssaaaaahhhhhhhhh…. “Nikita mendesis ketika merasakan penis si negro mengganjal lubang vaginanya dan kemudian perlahan-lahan memaksa masuk lebih dalam dan semakin dalam. Vagina Nikita yang sudah habis-habisan digempur tampak memar kemerahan, namun sepertinya si negro itu tidak peduli dengan kondisi vagina Nikita yang sudah “Knock Out”, tanpa daya lubang vagina Nikita kembali menerima sodokan-sodokan kasar penis si negro yang hitam dan panjang. Kedua tangan Nikita berusaha meraih dua batang penis yang masih segar, kemudian mulutnya terbuka lebar sambil menarik batang penis ditangan kirinya. “Heppphhhhh…, Mmmmmm, Mmmmmmm “, Nikita mengoral dua batang penis negro yang berada dalam genggaman tangannya
“Ahhhhhhh…..!! Ohhhhh…, Enak sekali Sichh.. Crrrr Crrrrr ” jebollah sudah cairan kenikmatan itu dalam beberapa kali denyutan. Nikita hanya dapat mengerang lemah ketika tubuhnya tersodok-sodok keatas mengikuti sodokan penis si negro yang sedang asik mengocok-ngocok vaginanya.
“Ahhhhh…! Jangan Disitu…, No Please….” Tiba-tiba si negro mendorong bokong Nikita, penisnya yang besar dan panjang dijejal-jejalkan dengan paksa pada lubang anus Nikita Willy
“Achhhhhhh….! Heggghhh…, Ahhhhhhhhhhh!! ” Nikita tidak dapat lagi menahan jeritannya ketika merasakan lubang anusnya dipaksa melar ketika kepala penis itu menerobos masuk dengan kasar.
“Aaaaaa…, Uuunnnhhhh,,, Aaaaaaaaaannnnhhhhhh….” Nikita meringis antara sakit dan nikmat ketika penis si negro tanpa ampun menyodomi lubang duburnya.

“Ahhhhh….!! ” Belum Juga Nikita sempat menyesuaikan diri tiba-tiba seorang negro lainnya mencekal pergelangan kakinya dan dengan kasar ia menancapkan penisnya, beberapakali penis yang besar itu menekan-nekan dengan kasar sebelum akhirnya amblas memasuki lubang vagina Nikita yang peret.
“Ohhhhhh, Ahhhhhhhhh, Ohhhhhhhhhh, Awwwwwwww…..” Nikita menjerit-jerit ketika dua batang penis itu berlomba mengaduk-ngaduk lubang vagina dan lubang anusnya. Wajah Nikita tampak memerah, seksi, sensual dan mengasikkan untuk dipandang ketika dirinya kembali mengalami puncak klimaks yang hebat “Crrrrrr…., Crrrrrrrrrrrrr…..”, tubuh Nikita yang basah semakin indah ketika menggeliat-geliat dengan nikmat, bibirnya selalu mendesis dan mendesah merasakan persetubuhan yang terasa semakin nikmat.
“He he he…, Yeahhhh, Oooo, Yeahhhhh….” Marshanda sedang mengangkangi wajah si negro sambil menekan-nekankan vaginanya pada mulut si negro yang rakus memangut-mangut vagina gadis itu yang semakin basah oleh air liur yang bercampur dengan cairan vaginanya yang gurih dan lezat.
“Unnnhhh, Ohhhhhhhh, Esshhhhhssssshhh… Hahaha…”Marshanda menengokkan kepalanya kebelakang kemudian tertawa keenakan ketika merasakan buah pantatnya digigit-gigit dengan lembut, apalagi lidah itu mengeliat-geliat dengan lembut menggelitiki himpitan pantatnya, sesekali dengan nakal lidah yang hangat dan basah itu mengait lubang anusnya.
Mulut Marshanda sibuk mengoral tiga batang penis yang teracung di hadapan wajahnya , panjang dan hitam, dikecupinya ketiga batang penis itu bergantian kemudian dijilatinya secara bergiliran. Marshanda tampak sangat rakus mengoral batang-batang penis itu, mulutnya berdecakan dan tampak belepotan oleh air ludah bercampur dengan lendir-lendir yang semakin banyak meleleh dari lubang penis ketiga pria negro itu.

“Ahhhhh….! Crrrr Crrrrr…” Marshanda menekankan vaginanya kuat-kuat pada mulut si negro yang mengemut vaginanya, jakun si negro terlihat bergerak turun naik ketika menelan cairan vaginanya yang gurih dan lezat.
Marshanda menggeser posisi tubuhnya kini ia hendak menduduki penis si negro, perlahan-lahan Marshanda menekankan kepala penis si negro namun terpeleset.
Tangan si negro memegangi batang penisnya sementara tangan yang satunya lagi menekan pinggul Marshanda untuk segera turun “Ahhhhhhhhhhh……” Wajah Marshanda terangkat keatas ketika penis Si negro tenggelam semakin dalam,
“Nikmattttt….ssshh…., Akhhhhhhh…, Owwwww,Hssshhhh ” Marshanda menopangkan kedua lengannya pada dada si negro dan dengan hebatnya Marshanda menaik turunkan pinggulnya, “Clepp.., Clepppp… Cleppppp, Cleppp” Suara-suara pertempuran itu semakin lama terdengar semakin nyaring diiringi oleh suara Marshanda yang menjerit-jerit liar.
“Damn, you’re so wild, Bitch…”Si negro yang tengah diperkosa oleh Marshanda tersenyum sambil meremasi buah dada Marshanda yang terguncang-guncang mengikuti gerakan tubuhnya yang liar.
Marshanda menghentikan gerakannya, ketika merasakan seorang negro mulai bergerak merapatkan selangkangannya pada buah pantatnya. Si negro menggesek-gesek belahan pantat Marshanda dengan batang penisnya sebelum bergerak menekan lubang dubur Marshanda dengan kepala penisnya.
“Ennggghhhhh…., ” kepala Marshanda terangkat keatas sambil mendesah panjang ketika merasakan sesuatu yang besar terasa mengait lubang duburnya yang mungil.
“Arhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” nafas Marshanda terputus-putus ketika si negro menyodokkan batang penisnya yang hitam dan panjang hingga terbenam sekaligus dengan sekali sodokan yang kasar dan kuat.

“Ahhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhhhh, ” keliaran artis yang terkenal akan perannya sebagai Lala dalam ‘Bidadari’ itu terlibas oleh kegarangan dan kekasaran dua orang pria negro yang sedang menyodoki lubang anus dan vaginanya , begitu kasar, liar, dan brutal.
“Ufffhhhhhhhhhhhh…., Crooootttttttttttttttttt…..” Marshanda pasrah pada denyutan-denyutan kenikmatan di vaginanya yang seakan-akan menyedot habis tenaganya, tubuhnya semakin basah, berpeluh dalam kenikmatan birahi yang mengombang-ambingkannya dalam lautan yang penuh dengan desahan-desahan kenikmatan.
“Ouuhhhhhh…! Arrrhhhhhh….! ” Marshanda meringis karena kedua negro itu semakin kasar dan brutal menyetubuhinya.
Dua batang penis itu semakin merajalela, seenaknya menjebol kedua lubang gadis itu, menghantam vagina dan lubang duburnya yang sempit, menusuk-nusuk dengan kejam dan mereguk kenikmatan tubuh Marshanda yang halus mulus dalam keliaran binatang buas yang lapar dan haus, tubuh Marshanda yang mungil tersentak keenakan ketika dua batang penis yang perkasa itu menghujami kedua lubangnya yang seret. Buah dadanya yang bergerak – gerak dengan indah menjadi mainan bagi dua negro yang asik menyusu di puncak payudaranya yang semakin kenyal membuntal dengan padat tanda gadis itu sedang diamuk kenikmatan yang dashyat.
“Arrrrhhhh…..”sesekali Marshanda menjerit kecil ketika merasakan gigitan-gigitan gemas kedua negro yang sedang menggeluti buah susunya. Hisapan-hisap kuat mulut kedua orang negro itu meninggalkan bekas kemerahan, kecupan-kecupan dan jilatan-jilatan lidah yang basah dan hangat membuat Marshanda berulang kali mendesah dan merintih, sementara tubuhnya tersentak-sentak dalam irama yang liar dan brutal disetubuhi oleh dua batang kemaluan di lubang vagina dan anusnya yang terasa seperti melar tanpa daya menerima penis yang begitu besar dan panjang.
“Heghhhh…. Oooooohhhhhhhhhh….Crrrrttttt…” Marshanda terkulai dalam kenikmatan puncak klimaks, bersamaan dengan itu gadis itu memekik keras ketika merasakan sodokan keras di lubang anus dan lubang vaginanya “Kecrottttt…” “Crooooooootttt”

“Uhhhhh, “Marshanda mengeluh kecapaian, tubuhnya yang sudah lemah ditarik dengan kasar kemudian gadis itu dipaksa berdiri, kedua tangannya diikat kebelakang, sementara seseorang menarik pinggul gadis itu agar menungging dan
“Jrebbbbbbbbb…. Arrrrhhhhhh….” Marshanda kembali mengerang merasakan sebatang penis kembali membobol lubang anusnya.
“Ohhhh, Please stop it, Ohhh it hurttttt…, Arrrrggghhhh”
Erangan kesakitan Marshanda bercampur dengan desahan nikmat ketika si negro yang berada dibelakang tubuhnya menghujam-hujamkan penisnya sedalam mungkin ke dalam anusnya. Marshanda menatap nakal pada dua orang negro yang menarik-narik putting susunya, sesekali mulut Chacha diemut dan dikulum dengan mesra oleh- bibir si negro yang tebal. Marshanda membalas setiap kuluman yang jatuh dibibirnya. Tangan Marshanda bergerak menyambar batang penis yang terhunus di selangkangan kedua orang negro itu, gadis itu melakukan remasan yang dikombinasikan dengan sesekali menarik-narik penis kedua orang negro itu yang meringis-ringis keenakan, memasrahkan batang penis mereka dalam genggaman tangan Marshanda, kedua negro itu menatap Marshanda dengan tatapan gelisah, Marshanda tersenyum sambil mendesah nakal
“I know U can’t wait to fuck me , BIG BOYYY…, Assshhhhhhh, Hesssshhhh”
Setelah puas menyodomi Marshanda , si negro yang berada di belakang Marshanda mencabut penisnya dengan kasar kemudian menjejalkan penisnya kelubang vagina gadis itu
“Aaaaa, Aaaaaaa, Arrhhhhhhh….! ” Marshanda memekik-mekik kecil ketika tubuhnya terayun semakin kuat,
“Plokkkk… Plopppp, plopppp,,, plokkkk… Keplokkkkkk….”
Suara hantaman selangkangan si negro terdengar dengan keras beradu dengan buah pantat Marshanda.
“Arrrrhhhhhhhhhhhhhh….! Crrrr Crrrrrrrrrrrr” Marshanda menjerit dengan liar ketika merasakan lubang vaginanya berdenyut-denyut nikmat, tidak berapa lama Chacha merasakan semburan dashyat di dalamnya.

“Uhhhhh…..” Marshanda mengeluh merasakan dirinya ditarik oleh kedua orang negro yang sudah tidak sabaran ingin segera menggenjot tubuhnya.
Dengan kasar tubuh dirinya didorong hingga jatuh duduk di atas sofa,
“Auhhhhh….., ” Marshanda memekik kaget ketika tubuhnya diterkam dan digeluti dengan kasar.
Bibirnya dikulum habis-habisan sampai gadis itu terengah-engah kehabisan nafas. Kedua negro itu menyusu di payudara Marshanda yang sudah basah berlapiskan peluh gadis itu, kedua kaki Marshanda mengangkang lebar-lebar ketika kedua negro itu mengelusi permukaan pahanya.
“Uhhhhh…., Ahhhhhhhhh” Marshanda memegangi tangan yang kekar itu ketika si negro mengocok-ngocokkan jari telunjuknya dengan kasar, cairan vaginanya semakin banyak meleleh, suara – suara berkecipak semakin keras terdengar.
“Awwwww….” Marshanda menjerit ketika si negro menggigit permukaan vaginanya dengan gemas, lidah si negro yang kasar bergerak menjilati permukaan vaginanya sampai tampak semakin basah oleh air liur bercampur dengan cairan kewanitaanya.
Tubuh Marshanda mengejang ketika merasakan sedotan sedotan rakus di lubang vaginanya, begitu kasar dan liar.
“Ecchhhhhh……, ” tubuh Marshanda menggigil ketika merasakan bibir vaginanya ditarik dengan kasar.
Si negro tersenyum memandangi bagian dalam vagina Marshanda, lubang itu tampak seperti sedang mengambil nafas, kadang merapat kadang merekah. Ia lalu menjulurkan lidahnya kemudian dengan lembut lidahnya mengulas-ngulas bagian dalam vagina Marshanda, sesekali bibirnya yang tebal melumat klitoris Marshanda yang mungil. Marshanda menggeliat – geliatan ketika merasakan cumbuan-cumbuan lembut di buah dadanya, mulut Si negro mengemut lembut puncak payudara Marshanda, tampaknya cumbuan-cumbuan lembut kedua pria negro itu membuat Marshanda semakin pasrah dalam pelukan nafsu birahi yang perlahan-lahan melahap kehangatan dan kemulusan tubuh artis muda itu.

“Unnnghhhhh……,Crrrrrrooottttt……” Marshanda merasakan pandangan matanya berkunang-kunang untuk sesaat, cumbuan-cumbuan lembut si negro membuahkan sebuah kenikmatan yang berdenyut-denyut di lubang vaginanya.
Si negro duduk di atas sofa dengan santai, batang penisnya terhunus ke atas seperti sebuah tumbak tumpul yang siap untuk memberikan kenikmatan bagi Marshanda.
“C’mon…..!! ” Si negro mengocok-ngocok penisnya sambil menoleh ke arah Marshanda.
Seolah-olah sudah mengerti, pantat Marshanda naik ke atas penis si negro, sebenarnya Marshanda ingin memasukkan penis si negro pada lubang vaginanya, namun apa daya keinginan si negro berbeda…..
“Emmmmhhhhhhhhhh…” Marshanda menggigit bibir bawahnya ketika berusaha memasukkan batang penis si negro kedalam lubang anusnya.
“Uhhhhhhhhhhhhh, ” Kepala Marshanda terangkat keatas, mulutnya membentuk huruf “O” disertai desahan panjangnya yang menggairahkan ketika perlahan-lahan batang penis yang besar dan panjang itu memasuki lubang anusnya. “Arrrhhhhhhhhhhhh….!! ” gadis itu menjerit ketika Si negro dengan tidak sabaran menarik pinggul Marshanda turun sambil menghentakkan tombak hitamnya keatas.
“Ennhh, Ennhhh, Akkkhhhhhh….” Tubuh Marshanda terloncat-loncat keatas ketika batang penis si negro mencecar lubang anusnya
“Hemmmm, Emmmmmmmmmhhhhh…” Mulut Marshanda yang sedang sibuk mendesah dan merintih itu mendadak disumpal oleh sebatang penis, Marshanda agak kebingungan ketika kedua tangannya ditarik ke belakang, namun tiba-tiba ia tersentak ketika merasakan batang penis si negro menekan semakin dalam ke dalam rongga mulutnya.
.”Ehekkk… Heeeekkkkkkkkssss….” Marshanda hanya dapat mendelikkan kepalanya ketika mulutnya di deepthroat oleh si negro. Marshanda tampak sangat menderita, wajahnya sering mengernyit.

“Emmmhhh, N.n.. Noo, Please Don’t ” Marshanda menolak ketika si negro menyodorkan kembali penisnya.
Si negro memukul mukulkan batang penisnya ke wajah Marshanda, seolah-olah sedang memberikan hukuman atas penolakan gadis itu. Marshanda menangkap penis si negro ketika si pria negro itu hendak menjejalkan penisnya dengan paksa kedalam mulutnya. Mulut Marshanda terbuka lidahnya terjulur keluar memberikan jilatan-jilatan lidahnya yang hangat dan basah pada penis si negro, kemudian sambil mengulum kepala penis itu kedua tangan Marshanda bergerak meremas dan mengocok-ngocok batangnya. Marshanda menarik kepalanya ketika merasakan batang penis si negro terbenam semakin dalam kedalam rongga mulutnya dan menyodok kerongkongannya.
“Plakkk…!! Plakkkkkkkkk!!!! ” Si negro yang sedang asik menyodomi Marshanda semakin keras memukuli buah pantat Marshanda.
“Ouhhhhh….” Marshanda semakin kesakitan, ia terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar, penis di hadapan wajahnya mulai mendekati mulut artis muda itu yang sedang menganga.
Kening Marshanda berkerut merasakan batang penis yang hitam itu kembali mendeepthroat rongga mulutnya, bahkan kepala penis itu mulai menyodoki kerongkorangannya dengan kasar.
“Uhukkk.., Uhukkkk…., ” Marshanda terbatuk-batuk ketika tersedak cairan sperma si negro yang meledak di kerongkongannya. Marshanda meludahkan cairan sperma si negro.
“Nhhooooo…, Pleaseeeee…. Noooooo….” Marshanda menangis ketika sebatang penis lain yang lebih besar kembali tersodor di hadapan wajahnya.
“Don’t cry…, ” Si negro mengusap air mata Marshanda, kemudian tangannya meremasi buah dadanya dengan lembut, untuk sesaat Marshanda menyangka kalau pria negro di hadapannya adalah seorang yang lembut, namun harapan tinggallah harapan ketika kemaluan si negro yang besar itu tanpa ampun merojoki lubang vaginanya yang sempit dan peret, begitu liar, kasar dan brutal.

“Cleppp.. Cleeppppp… Clepppp” “Plokkk…Plokkkk.. Plokkkkk”
“Ahh… Cruuuuuttttt…..” Marshanda menggelepar-gelepar, tubuhnya masih terus tersentak-sentak dipacu dalam kenikmatan yang semakin rakus melahap tubuh Marshanda, batang-batang kemaluan yang hitam dan panjang tidak pernah lengah sedikitpun untuk memberikan kenikmatan untuknya.
Sementara itu Julie Estelle tengah menggeliat-geliat, berkali-kali kepala dua negro itu menunduk bergantian untuk mencumbui payudaranya, tangan mereka yang hitam mengelusi tubuh Julie yang putih dan mulus. Walaupun susu Julie tidak begitu besar tapi kedua negro itu terlihat sangat menikmatinya. Julie menunggingkan bokongnya ketika kedua negro itu merubah posisi, yang satu berdiri dibelakangnya, yang satu berdiri dihadapannya.
“Essshhhhh…., ” tubuh Julie mengejang ketika merasakan sebuah kepala penis berusaha kembali membobol lubang anusnya, ia merasakan lubang anusnya merekah dan terasa sesak.
“Awwww….” Julie mengernyit kesakitan ketika penis itu menyentak-nyentak
Batang penis yang hitam dan panjang itu tenggelam Semakin dalam dan dalam. “Awwww.. Aduhhh Duhhhhhhh….!! “
“Emmmhhh…” Si negro dihadapannya menjambak rambut Julie dan menekan kepalanya ke bawah, sedangkan tangan kiri si negro menjejalkan kepala penisnya ke mulut Julie.
“Emmmrrrrhhhhh……” mata Julie mendelik ketika penis si negro menekan dalam merojok kerongkongannya, tubuhnya sampai bergetar hebat ketika dideepthroat oleh penis si negro.

Pinggul Julie didekap erat oleh sepasang tangan yang kekar kemudian penis yang besar itu semakin kasar dan kuat menggenjoti lubang anusnya. Kedua tangan Julie ditarik ke belakang dan kemudian kedua negro itu semakin kasar mendeeptroat dan menyodominya. Air mata menetes dari sudut mata Julie, agak lama barulah si negro mencabut penisnya dari dalam mulut Julie. Begitu penis itu dicabut, Julie langsung mengambil nafas panjang,
“Whaaaaaw!! Noo Nooo Please…..” Julie langsung menjerit sambil menggeleng-gelangkan kepalanya, si negro terkekeh-kekeh sambil menjilat pipinya.
Si negro merendahkan tubuhnya, tangan kanannya membimbing penisnya ke belahan vagina Julie. Benar-benar tragis, lubang anus Julie ditancap oleh sebatang penis, dan kini sebatang penis lain menghunus dan menghujam belahan vaginanya. Si negro yang berdiri dihadapannya mengangkat dan meletakkan kaki Julie melingkari pinggangnya. Mau tidak mau Julie terpaksa mengalungkan kedua lengannya pada leher si negro di hadapannya. Julie mendesah-desah ketika merasakan dua penis itu mulai menyetubuhinya dengan lembut, tampaknya kedua negro itu sedang keasikan menikmati kehangatan Julie, begitu lembut dan lembut, pergesekan penis yang besar dan panjang itu terasa semakin nikmat membuat Julie menengadahkan kepalanya keatas dan mendesah panjang.
“Dasar kunyuk lu Moreno, emangnya gua ga bisa apa main ama negro juga apa!” umpat Julie dalam hati mengingat perselingkuhan ex-pacarnya, Moreno, si pembalap karbitan itu, dengan seorang gadis Nigeria beberapa waktu sebelumnya, ingin rasanya ia mempertontonkan dirinya sedang dalam keadaan sekarang ini di depan Moreno untuk memanas-manasinya, tapi sayangnya pembalap karbitan itu sedang jauh di tanah air dan entah sedang ngapain.
“Ennnhhhhh…, Crrrr Crrrrrr” tidak begitu lama, Julie merasakan lubang vaginanya berdenyut dalam sebuah ritme yang terasa nikmat.
Yang paling pertama si negro di hadapannya tiba-tiba menyentakkan penisnya kuat-kuat sampai ia berteriak keras, kemudian digantikan si negro yang dibelakang tubuhnya menyentakkan penisnya dengan kasar “Ahhhh..! ” Julie kembali menjerit keras.

“Ahhhh…! Ahhhhhhh!! ARRRHHHH !!!! ” Julie semakin keras menjerit liar, ketika dua penis itu kini memacu lubang anus dan vaginanya, tubuh Julie yang putih dihimpit oleh tubuh dua orang negro yang hitam legam.
Tubuh Julie tampak indah ketika terangkat-angkat keatas kemudian menghempas-hempas ke bawah dalam sebuah irama yang teratur, sesekali ia mengerang keras
“Ahhhhh… Crrrr Crrrrrr…..” Satu pekikan keras Julie menggakhiri pertempuran yang sengit itu, tapi hanya untuk Julie, sedangkan bagi dua orang negro yang masih menghimpit tubuhnya pertarungan masih dianggap sebagai tester.
“Shhhh…. ” Julie mendesis ketika dua batang penis itu terlepas dari lubang anus dan lubang vaginanya, Tubuhnya melorot turun, Julie menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal.
Si negro membaringkan tubuhnya diatas lantai berselimutkan kain permadani, sedangkan si negro yang satunya lagi membimbingnya agar segera menaiki tubuh rekannya yang sedang berbaring sambil mengacung-ngacungkan penisnya. Julie menurunkan vaginanya. Artis cantik itu merasa ada sesuatu yang mengganjal selangkangannya dan menusuk dengan perlahan-lahan terbenam ke dalam vaginanya sehingga ia kini dapat semakin merapatkan vaginanya ke selangkangan si negro. Tubuh Julie bergerak erotis ketika penis itu bergerak semakin dalam tertancap di lubang vaginanya. Tangan si negro mengelusi pinggul Julie ketika ia menaik turunkan pinggulnya dalam sebuah gerakan yang berirama, penis yang besar dan hitam itu terkadang tertekuk ketika memasuki belahan lubang vagina Julie. Tangan si negro menampar-nampar pinggul Julie sehingga artis muda itu mempercepat gerakan pinggulnya yang naik turun. “Ahhh, Ahhhh. Ahhh.. Ahhhhhh” suara dari mulut kembali terdengar semakin keras, gerakannya tertahan ketika sepasang tangan menekan buah pantatnya “Arrrrhhhhhh” Julie mengerang sambil merayapkan tangannya memegangi buah pantatnya. Sebatang penis sudah asik menancap di lubang anusnya dan kini si negro semakin kuat menekankan penisnya ke dalam anus Julie.
“Ennhhh… Enhhhh…!! Awwww” Julie merintih-rintih ketika kedua penis itu berlomba memacu kedua lubangnya, ia merengek – rengek dengan manja dalam himpitan tubuh dua orang negro yang terus menyetubuhinya dengan kasar dan brutal.